Sumber pic :https://www.google.co.id/search?q=pungli+di+kampus&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwiq6ZqJk-fSAhWFto8KHSd2BQIQ_AUIBigB&biw=1280&bih=615#imgrc=qg4vWqhP9FbYTM:
Ciri-Ciri Pungutan Liar di Kampus
Mahasiswa News
| Berbicara soal korupsi, pasti kita langsung berpikir hal-hal negatif
dan menilai budaya ini sudah menjadi hal yang biasa dalam kehidupan
berbangsa dan bernegara.
Korupsi pula sudah
mengerogoti di semua elemen instansi. Instansi pemerintahan, instansi
publik, instansi swasta bahkan instansi pendidikan tak luput dari budaya
korupsi.
Universitas Mulawarman
(Unmul) adalah kampus yang 2 tahun terakhir terus meningkat dari segi
BOPTN. Tahun 2015, BOPTN Unmul sebesar 31 Milyar meningkat dari 29
Milyar pada tahun 2014. Tahun ini Unmul mendapatkan dana BOPTN sebesar
33 Milyar. Dengan dana yang jauh dari kata ideal untuk pembangunan dan
meningkatkan kualitas, ditengah keterbatasan yang ada Unmul terus
berbenah dengan dana dimiliki.
Unmul sejatinya sudah
menerapkan kebijakan sistem BLU mulai tahun 2009. Itu artinya boleh
mencari pendapatan dari pihak ketiga yang menjadi PNBP serta harus
melalui rekening Unmul dan jelas diatur dalam aturan yang dibuat oleh
Unmul.
Pada dasarnya Unmul
menerapkan kebijakan ini untuk efisiensi dan produktivitas Anggaran. Dan
mengelola anggaran secara mandiri melalui pihak ketiga karena dari
perspektif BLU boleh melakukan kegiatan bisnis untuk menunjang
pendapatan selain dari dana bantuan APBN dan BOPTN dari pemerintah.
Namun, dalam
perjalanannya banyak sekali yang menyalahi aturan dengan melakukan
pungutan diluar aturan yang ditetapkan Unmul. Kita biasanya menyebutnya
pungli (Pungutan liar).
Budaya pungli sudah
terjadi sejak dahulu dan terjadi di kampus Unmul. Biasanya pungli
terjadi untuk memudahkan administrasi dalam pengurusan surat menyurat
atau dokumen, meminjam gedung, study tour bahkan untuk menunjang nilai
kuliah tanpa harus melalui ujian.
Di Universitas
Mulawarman selama bertahun-tahun kerap menjalankan praktek pungli.
Barangkali dari kita ada yang sudah terbiasa bertemu pungli. Namun tak
sedikit dari kita yang kesal ditarik pungli. Entah karena malas merogoh
uang di kantong, tidak punya cukup uang, maupun karena sudah mengetahui
aturan yang dibuat. Karena sudah menjadi tradisi dan sudah terbiasa
menemukan pungli di kampus.
Kadang kita bergumam
dalam hati, “ah cuma Dua ribu aja”. Ya, kalau cuma dua ribu, kalau
sekian juta? Ya, kalau cuma dua ribu, kalau dilakukan berkali-kali ?.
Tanpa sadar, uang yang kita bayar tidak masuk ke kas Unmul dan tak
berarti apa-apa untuk Unmul. Uang tadi masuk ke kantong pribadi-pribadi,
yang memanfaatkan birokrasi demi kepentingan pribadi.
Ciri - ciri Pungutan liar antara lain :
1. Dipungutnya biaya tambahan, di luar yang diatur di standar layanan.
2. Biasanya tidak ada tanda terima.
3. Tidak disetor ke negara, dan biasanya dengan dalih untuk operasional.
Hal termudah mengetahui
pungli di kampus tentu saja ketika bertemu jenis pungutan yang tidak
disertai tanda terima. Itu sudah jelas sekali. Termudah kedua, adalah
pungutan yang tidak ada dasar aturan yang jelas.
Di kampus, kita bisa
menemui banyak sekali macam-macam pungutan. Dari sekian pungutan, bisa
jadi salah satu diantara adalah yang merasakan ganasnya pungutan liar
adalah kita mahasiswa.
Tentu dalam memperangi
Korupsi, di tatanan pemerintah mempunyai lembaga KPK. Sedangkan di
tatanan Kampus mempunyai lembaga SPI (Satuan Pengendalian Internal)
Unmul yang mempunyai wewenang memeriksa, mengaudit dan menindak tegas
oknum Pungli di semua fakultas yang ada di Unmul. Tentu dengan melihat
laporan mahasiswa dan keganjilan laporan keuangan fakultas yang selalu
disetorkan kepada universitas setiap bulan agar SPI bisa menjaga
nilai-nilai akuntabilitas dalam hal laporan keuangan sehingga tak ada
lagi anggaran yang tak terpakai, membengkak, dan penyerapan anggaran tak
maksimal.
Setiap uang yang kita
setor ke kampus, haruslah menjadi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).
Tidak segala hal menjadi PNBP. Artinya, ketika uang yang kita setor
tidak masuk sebagai PNBP, pastilah merupakan pungli. Bahkan sekarang
jika kita menyetorkan uang harus melalui rekening Unmul bukan lagi
rekening pribadi. Dan juga disertai laporan pendapatan universitas
pertahun, sehingga publik mengetahui dan mengawasi laporan keuangan.
Uang yang dibayar yang
tidak masuk ke PNPB setidaknya ada yang tujuannya baik, misalnya untuk
rehabilitas gedung, peningkatan pengurusan administrasi, pengadaan
fasilitas dan sebagainya. Akan tetapi persoalannya bukan seputar baik
atau buruk tujuan dari pungutannya. Persoalannya adalah seputar
pertanggungjawaban alias akuntabilitas dari uang tersebut. Mengelola
kampus, tentu berbeda dengan mengelola dompet pribadi. Kampus adalah
Badan layanan umum, sehingga setiap pengeluaran sekecil apapun
bertanggungjawab kepada publik.
Hari Anti Korupsi
mestinya dipromosikan bukan saja untuk membenahi kultur dan struktur
pengelolaan urusan publik (governance) tapi juga menanamkan nilai-nilai
semangat pengabdian pada kemaslahatan publik. Apabila semangat semacam
ini tumbuh menjadi kebiasaan orang Indonesia, kami yakin akan tercipta
kultur dan struktur administrasi publik yang baik. Tapi sepanjang etos
ini hanya ada di segelintir manusia Indonesia maka kemungkinan besar dia
kurang daya melawan arus sistem yang mementingkan hak pribadi. Pejabat
melakukan korupsi belum tentu karena niat pribadi tapi karena desakan
sistem atau struktur kuasa yang busuk sehingga memperangkap orang yang
sebenarnya baik menjadi tidak lagi berdaya atau bahkan tersedot oleh
sistem yang ada.
Menanamkan semangat anti
korupsi dengan berani untuk jujur adalah langkah jangka panjang dan
harus dilakukan terus menerus. Pembenahan bisa dimulai dari diri kita
sendiri. Langkah awal bisa dilakukan di lingkungan terdekat kita : di
keluarga, kampus, kelas, komunitas, atau di tempat kerja. Sebarkan virus
anti korupsi ini setiap saat tidak harus menunggu Hari Anti Korupsi.
Mari berantas pungli di
Kampus Unmul, karena awal dari pungutan liar akan menjadi budaya korupsi
yang mementingkan kepentingan pribadi. Dengan keterlibatan aktifmu
memerangi pungli, kamu sama saja sudah berusaha menyelamatkan generasi
muda dari budaya korupsi. Dan juga tentu saja menyelamatkan uang yang
diamanahkan oleh orang tua tercinta, sehingga tidak jatuh di pihak yang
salah. Masih banyak pungli berkeliaran di sekitarmu, siapkah kamu
memeranginya? Waspadalah !
Untuk hebat, tidaklah
perlu untuk membuat hal-hal yang besar yang ribet, cukup jujur dalam hal
kebaikan dan kebermanfaatan untuk menghilangkan budaya korupsi. Karena
berani jujur itu hebat wal!
Salam,
Freijae Rakasiwi
Koordinator Jaringan Advokasi Mulawarman / http://www.mahasiswanews.com/2016/12/ciri-ciri-pungutan-liar-di-kampus.html#
I’m a Happy Mom
Hai.. Aku adalah seorang Ibu Rumah Tangga Tulen. Aku katakan tulen karena aku sepenuhnya bertanggung jawab kepada keluarga kecuali masalah keuangan. Umur ku masih tergolong muda, 26 tahun. Status Ibu Rumah Tangga ini sudah lama melekat dalam diriku, 5 tahun lamanya aku mulai meninggalkan duniaku yang dulu.Duniaku yang dulu adalah hanya tentang diriku..dan beberapa buku serta khayalan tentunya. Aku adalah anak perempuan satu satunya dari empat bersaudara. Ibu dan Ayahku adalah Guru, kakakku adalah Dokter dan dua adik kembarku juga ‘calon’ dokter. Mungkin kalian bertanya-tanya bagaimana mungkin aku betah menjadi Ibu Rumah Tangga biasa dengan keturunan seperti itu?
Yah, mungkin aku harus curcol dulu tentang siapa gerangan diriku. Aku adalah anak paling cantik (karena perempuan Satu2nya tentunya) dan paling sedikit mendapatkan porsi IQ dibanding saudara saudaraku. Sejak dulu Aku berusaha menjadikan kakakku sebagai Rule Mode. Aku terbiasa berpura-pura menjadi orang pintar dilingkungan ku Just like my Brother. Untungnya dengan belajar yang lebih giat tentunya Aku berhasil memperoleh rangking dikelas hingga SMP.
Namun, masa SMA bagiku adalah babak yang tak kuperhitungkan. Otak kecilku tak sanggup bersaing dengan Otak-otak pintar lainnya yang terkumpul dari anak-anak SMP yang pintar. Aku tak pernah lagi memperoleh rangking seperti dahulu. Bahkan, pelajaran Fisika yang dulu Kusukai berubah tak menyenangkan dengan munculnya Guru yang baru.
Sejak itu aku memukul diriku. Aku katakan kepada diriku “THAT’S ENOUGH” cukup sudah drama berpura-pura-puranya. Aku sudah jelas tak bisa menandingi kakakku. Impian menjadi ‘be like him’ sudah kukubur Jauh-jauh. Aku pun memutuskan masuk ke Jurusan IPS. Dan apa yang ingin kuperdalam dalam disana? Atau aku kesana hanya ingin berpura-pura pintar (lagi?)
Entahlah, waktu Itu tujuanku masih ngambang. Ketika salah seorang guru Bahasa inggris memintaku menuliskan tentang cita-cita aku menulis ingin menjadi seorang Penulis. Tulisan itu muncul begitu saja, padahal ketika Guru lain bertanya aku selalu menjawab ingin menjadi Guru TK seperti mama ku. Mungkin karena waktu itu Aku merasa nyaman ketika diajar oleh beliau sehingga Aku tak bisa menyembunyikan Obsesi khayalan ku bahwa Aku menggemari JK Rowling, bahkan ingin menjadi sepertinya.
Namun, manusia memang aneh. Dia tak pernah bisa fokus. Aku misalnya tak pernah memulai Tulisan ku. Hanya beberapa cerita curcolan kecil tentang hidupku dan kadang ku perindah ceritanya dengan kisah cinta remaja SMA, Seolah-olah Aku adalah Gadis yang berperan utama di antara beberapa lelaki yang sedang Pedekate denganku. Ah konyolnya. *tapak muka*
Dan jangan tanya kemana file cerita cinta sok laku itu? Sudah kubuang jauh-jauh tentunya.. Hihi..
Hidup manusia memang selalu terbawa dengan fenomena. Aku adalah salah satu korban dari salah tafsir fenomena dilingkungan ku. Ayah dan Ibuku keduanya adalah PNS dan merasa kalau penghasilan mereka selalu kurang. Ibu dan Ayahku pekerja keras. Tak cukup hanya menjadi Guru mereka juga berternak Ayam Pedaging. Dari memelihara 200 ekor hingga puluhan ribu ekor. Ibuku selalu bilang kepadaku bahwa penghasilan PNS tak akan pernah cukup untuk membiayai keempat anaknya.
Sejak itu, aku memiliki Tujuan hidup yang baru. Ya.. Uang. Dimana pelajaran yang mempelajari tentang uang? Berhubungan dengan uang? Yah semua ada di ekonomi dan akuntansi. Ibuku mendukung keinginanku. Mungkin nanti aku akan menjadi orang kaya pikirku sehingga aku akan membuat keluargaku bangga.
Ketika lulus SMA aku secara mantap mendaftarkan diriku di Jurusan Akuntansi. Ikut PMDK dan UMPTN DIUNLAM juga di UNM. Namun, tak satu pun lulus. Sungguh mengecewakan kala itu, bagaimana bisa Aku yang selalu Rangking tak bisa menembus jurusan yang kumau? Aku melirik teman-temanku, beberapa ada yang mendaftar di jalur mandiri. Akupun ikut mendaftar, ternyata lumayan gampang dibanding UMPTN namun, disana harus menuliskan sumbangan. Dan makhluk mana yang masih merasa ‘kasihan’ kalau uang mama habis jika aku menulis banyak uang. Itulah aku, aku hanya menulis uang 1juta dan akhirnya aku tak lulus (lagi).
Aku lalu mendaftarkan diriku di POLIBAN. Saat itu, ada jurusan yang menarik diriku, D4 Akuntansi Lembaga Keuangan Syariah(ALKS). Menarik, karena akuntansi dan syariah tetapi mengecewakan karena D4. Maksudku kenapa tak S1 saja sekalian? Aku Ragu mendaftar namun jika tak kesini kemana lagi? Pikirku. Alhamdulillah aku pun lulus.
Ketika inilah Aku mulai perlahan memahami langkah hidupku. Kupikir kenapa Allah menetapkanku disini? Aku menjawab secara positif kepada diriku sendiri bahwa Aku tak pernah diinginkan Allah menjadi cewek matre. Seandainya matre pun Aku harus selalu memandang uang dari kacamata syariah. Akupun secara positif membuat tujuan baru “Jurusan ini langka, pasti nanti nyari kerjanya gampang” hihihi.. Nah loh mesti kena tapak berapa kali nih muka?
Singkat cerita Akupun lulus kuliah dan berjodoh dengan salah satu Asisten Dosen di Kampusku. Aku tak menyangka langsung hamil, padahal saat itu aku memakai KB. Mungkin, inilah jalan terbaik. Pikirku positif. Padahal saat itu Aku ingin sekali ikut S2 ke UGM bersama dengan suamiku yang kebetulan lulus beasiswa disana.
9 bulan kemudian Anakku lahir dan hidupku berubah 180 derajat. Mulai dari menyesuaikan diri di rumah mertua, menjadi inem dirumah sendiri, menjadi Ibu dan Istri yang baik. Hidupku kini telah memiliki tokoh utama yang lain. Its not About Me anymore. It’s all about you, you n home.
Aku selalu bertanya masalah pekerjaan sewaktu baru menikah. Ketika hamil ibuku dan suamiku bilang tidak, nanti dulu. Ketika Farisha, anakku lahir mereka bilang nanti dulu masih ASI. Ketika Farisha umur 6 bulan Aku mulai Iseng mendaftar diberbagai perusahaan dan kantor, namun tak juga mendapat panggilan. Suamiku bilang ia sungguh membutuhkanku untuk bisa selalu dirumah agar ia bisa menyelesaikan pekerjaan sampingannya, supaya kami bisa memiliki rumah sendiri.
Kesabaranku berbuah manis. Kami akhirnya memiliki rumah sendiri berkat suami yang luar biasa. Ia adalah Seorang Pengajar, dan memiliki bakat programmer yang luar biasa. Sejak itu, aku selalu mempercayai masalah ekonomi kepada suamiku. Tugas ku hanya disini, dirumah.
Rumah memang bentuknya tak sebesar kantor. Percayalah, disini adalah kantor yang luar biasa sibuknya. Pagi-pagi aku kepasar, kemudian memasak, menyusui Farisha hingga tertidur, membersihkan rumah, mencuci baju, memasak lagi, menyusui lagi, memasak cemilan, memasak lagi, menyusui lagi, mencuci lagi, melayani suami. Dst.. dst..
Aku tentu bisa menahan rasa capek jasmaniku, yang tak bisa kutahan adalah rasa capek rohaniku. Dunia sosial ku, komunitasku, bahkan celotehan Ibu dan Ayahku semuanya hilang. Bukannya Aku tak ingin besosial dengan mengurung diri dirumah, namun dirumah saja sungguh sibuk, bagaimana Aku sempat nyurcol dengan teman diluar? Eh, maksudku tetangga?
Sosial media adalah pelepas rasa Stress yang melandaku. Mulai dari bbm, Facebook, Instagram. Di bbm aku biasa menulis keluhan. Di Facebook aku menulis curcolan singkat dan agak panjang. Di Instagram aku sering meng’upload foto masakan, kue dan resepnya. Kurasa itu sungguh manusiawi mengingat kondisi Stress akan dunia kotakku.
Aku tak akan melupakan ada seseorang yang mengadukan perilakuku(statusku) disosial media kepada salah satu keluarga ku. Aku sedikit pilih pilih berteman melalui bbm mengingat disana aku kadang tak terkontrol menulis emosiku. Tapi jika di Instagram aku dibilang sungguh lebay memoto makanan dan momentnya sungguh lucu sekali. Atau ketika aku menulis hal konyol di facebook. Aku cuma bisa bilang ke dia. Udah tau aturan sosmed?
Untunglah punya Suami sungguh mengerti akan diriku. Dia mengerti tentang diriku yang melankolis super. Aku tak bisa mengadukan masalahku seperti para IRT2 lain yang suka ngerumpi dikala sore tiba. Ketika Aku bertemu dengan orang lain Aku hanya memutuskan menjadi pendengar yang baik. Namun, bagaimanapun juga Aku tetaplah seorang wanita yang harus mengeluarkan minimum 20000 kata per harinya. Kadang sosial media terlalu kejam untuk memahami hal sesimple ini. Untuk itulah Suamiku menciptakan Wadah ini untuk menyalurkan Hoby menulisku yang telah lama tak ku asah karena tiada cerita cinta SMA lagi.. Hihihi..
Jangan khawatir, blog ini tak akan kuisi dengan keluhan dan cacian. Aku akan menuliskan dan menceritakan kepadamu Bagaimana menjadi Ibu yang Bahagia.
Bahagia itu penting. Modal awal membangun pondasi rumah tangga. Kebanyakan Ibu lupa bagaimana cara Bahagia dirumahnya sendiri. Akibatnya sungguh fatal, mulai dari kemarahan, hingga berujung pertengkaran yang tiada habisnya.
Aku akan menulis tentang proyek menjadi Ibu dan Istri yang baik. Kedengarannya sungguh Simple ya? Percayalah itu kedengarannya saja.. Hihi.. Dan selain itu blog ini juga akan kuisi tentang berbagai renungan Hidup yang kuharap akan menjadi renungan bagiku jikalau nanti aku akan mengalami cobaan yang lain. Selain itu, aku juga akan berbagi dengan kalian tentang cara mengatur ekonomi rumah tangga, parenting, all about beauty. Menyenangkan bukan?
Karena itulah Blog ini kunamakan Proyek Evolusi Mama. Karena aku yakin, diluar sana banyak mama-mama lain sepertiku yang ingin memulai perubahan tapi tak kunjung menemukan jalan. Blog ini adalah langkah kecil dari menstruktur strategi perubahan. Yah, menulis akan memulai segalanya.
Ingatlah, menulis adalah media yang bisa mengabadikan jejak. Seperti dongeng Hansel n Gretel, Jejak bukanlah sesuatu yang hilang begitu saja walau itu hanya berbentuk remahan roti. Ia adalah pengingat jalan pulang. Menulis tentang kebaikan akan menjadi cahaya tersendiri ketika kita dihadapkan dalam kegelapan kehidupan.
Aku tau lambat laun semuanya akan hilang. Tapi satu hal yang harus selalu kekal. Ialah Kenangan. Jika kau merasa kulitmu akan mengendur, matamu kemudian penuh lekukan dan bibirmu tak secantik dulu maka kau tak perlu bersedih. Karena tulisanmu tidak akan pernah berubah menjadi usang. Disanalah kau akan merasa muda selamanya.
Maka bersenang-senang lah dalam proyek mengabadikan kenangan. Happy Writing!!! / https://aswindautari.wordpress.com/ / https://aswindautari.wordpress.com/2017/03/05/pos-blog-pertama/
Wakil Rakyat yang ada di Banjarmasin atau di Jakarta ...sama aja ...hanya manis dikala kampanye..setelah terpilih..selalu menyusahkan rakyat kecil..

Listrik Makin Menyetrum Rakyat
Banjarmasinpost.co.id - Selasa, 29 Juni 2010
Oleh: Latifika Sumanti
Mahasiswi S1 Fisika FKIP Unlam
SEBAGIAN masyarakat pasti menyesal telah memilih anggota legislatif yang kini duduk di DPR. Betapa tidak? Mereka yang mengklaim dirinya sebagai wakil rakyat yang akan menyalurkan aspirasi masyarakat (setidaknya itu mereka ucapkan ketika kampanye) kini seakan lupa kacang akan kulitnya.

Badan anggaran DPR RI akan memangkas anggaran subsidi listrik dari Rp 56 triliun menjadi Rp 55 triliun. Itu artinya kenaikan tarif dasar listrik sebesar 10 persen akan kembali menyekat kerongkongan rakyat kecil.
Kenaikan tarif listrik itu disebabkan naiknya harga minyak dunia. Pemerintah kini sedang ancang-ancang untuk menetapkan harga baru BBM. Bisa dibayangkan, makin jauh harapan kesejahteraan itu. Negeri kaya dengan sumber daya melimpah, kini sedang kehilangan potensinya yang luar biasa.
Perampokan hasil alam berdalih penambangan oleh asing (Freeport, Exxon Mobil, Newmont dan lainnya), berkedok penebangan hutan industri oleh koorporasi tak bertanggung jawab menjadikan Indonesia kerampokan di negeri sendiri.
Pengurangan subsidi listrik tidak hanya berdampak pada naiknya tarif listrik, tapi merambah ke harga sembako. Alhasil, masyarakat yang terjepit karena lapangan kerja yang makin sempit akan makin menjerit mendapati kenyataan hidup yang tidak memihaknya.
Pengurangan dan pencabutan subsidi adalah bagian dari kebijakan ekonomi kapitalis. Bangsa ini sudah terlanjur terjerat kapitalis dunia lewat jalan pemberian utang yang berbunga.
Pelunasan utang itu memakan waktu puluhan tahun dan selama itu pula kapilalis asing mengintervensi kebijakan dalam negeri Indonesia.
Padahal jika mau berdikari, Indonesia pasti bisa. Kekayaan hutan dan tambang mineral pun seakan melengkapi harta karun bangsa ini. Sudahlah cukup alam yang luar biasa itu menjadi bekal untuk menghidupi rakyat.
Di dalam syariah Islam, pengelolaan sumber daya alam yang penting bagi kelangsungan hidup manusia dan jumlahnya melimpah, tidak akan pernah diberikan kepada swasta, individu apalagi asing. Pengelolaan itu diberikan kepada negara sepenuhnya dan hasilnya dikembalikan kepada rakyat seutuhnya.
Bisa dibayangkan, kekayaan melimpah tadi dikelola negara dan hasilnya untuk rakyat. Tidak akan terdengar lagi harga sembako yang terus meroket, kita tidak akan merasakan lagi ‘setruman’ listrik yang menyengat. Hanya dengan syariah dan di dalam negara yang mau menerapkannya kita bisa seperti itu. Indonesia mau? (*)
Mahasiswi S1 Fisika FKIP Unlam
SEBAGIAN masyarakat pasti menyesal telah memilih anggota legislatif yang kini duduk di DPR. Betapa tidak? Mereka yang mengklaim dirinya sebagai wakil rakyat yang akan menyalurkan aspirasi masyarakat (setidaknya itu mereka ucapkan ketika kampanye) kini seakan lupa kacang akan kulitnya.

Badan anggaran DPR RI akan memangkas anggaran subsidi listrik dari Rp 56 triliun menjadi Rp 55 triliun. Itu artinya kenaikan tarif dasar listrik sebesar 10 persen akan kembali menyekat kerongkongan rakyat kecil.
Kenaikan tarif listrik itu disebabkan naiknya harga minyak dunia. Pemerintah kini sedang ancang-ancang untuk menetapkan harga baru BBM. Bisa dibayangkan, makin jauh harapan kesejahteraan itu. Negeri kaya dengan sumber daya melimpah, kini sedang kehilangan potensinya yang luar biasa.
Perampokan hasil alam berdalih penambangan oleh asing (Freeport, Exxon Mobil, Newmont dan lainnya), berkedok penebangan hutan industri oleh koorporasi tak bertanggung jawab menjadikan Indonesia kerampokan di negeri sendiri.
Pengurangan subsidi listrik tidak hanya berdampak pada naiknya tarif listrik, tapi merambah ke harga sembako. Alhasil, masyarakat yang terjepit karena lapangan kerja yang makin sempit akan makin menjerit mendapati kenyataan hidup yang tidak memihaknya.
Pengurangan dan pencabutan subsidi adalah bagian dari kebijakan ekonomi kapitalis. Bangsa ini sudah terlanjur terjerat kapitalis dunia lewat jalan pemberian utang yang berbunga.
Pelunasan utang itu memakan waktu puluhan tahun dan selama itu pula kapilalis asing mengintervensi kebijakan dalam negeri Indonesia.
Padahal jika mau berdikari, Indonesia pasti bisa. Kekayaan hutan dan tambang mineral pun seakan melengkapi harta karun bangsa ini. Sudahlah cukup alam yang luar biasa itu menjadi bekal untuk menghidupi rakyat.

Di dalam syariah Islam, pengelolaan sumber daya alam yang penting bagi kelangsungan hidup manusia dan jumlahnya melimpah, tidak akan pernah diberikan kepada swasta, individu apalagi asing. Pengelolaan itu diberikan kepada negara sepenuhnya dan hasilnya dikembalikan kepada rakyat seutuhnya.
Bisa dibayangkan, kekayaan melimpah tadi dikelola negara dan hasilnya untuk rakyat. Tidak akan terdengar lagi harga sembako yang terus meroket, kita tidak akan merasakan lagi ‘setruman’ listrik yang menyengat. Hanya dengan syariah dan di dalam negara yang mau menerapkannya kita bisa seperti itu. Indonesia mau? (*)
Menristek Dikti Luncurkan Aplikasi Cegah Pungli di Perguruan Tinggi
GORONTALO, KOMPAS.com– Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristek Dikti) Muhammad Nasir meluncurkan aplikasi penangkal pungutan liar di kampus Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Kamis (10/11/2016). Teknologi aplikasi ini dikembangkan oleh Unit Pelaksana Teknis Teknologi Informasi Komunikasi (TIK) dan Pusat Studi Kebijakan dan Anti Korupsi (Pukat) UNG. Aplikasi dapat diunduh di Play Store dengan nama aplikasi Cegah Pungli.
“Pembayaran mahasiswa di kampus tidak boleh dilakukan secara tunai, semua harus online. Munculnya pungli ini akibat pembayaran tunai,” kata Muhamad Nasir.
Meristek Dikti menegaskan pihaknya tidak main-main dengan pungli di lingkungan kementeriannya, termasuk perguruan tinggi.
Hal itu, kata Nasir, sesuai dengan penegasan Presiden Jokowi yang bertekad membasmi pungli.
Pukat mengembangkan aplikasi Cegah Pungli sebagai komitmen terhadap pemberantasan korupsi di lingkungan perguruan tinggi.
Direktur Pukat, Funco Tanipu menilai, pungli dimulai dari hal-hal kecil hingga paling besar. Di pergurian tinggi masih dijumpai banyak pungli, yang semuanya di luar aturan.
Sementara itu, pengembang aplikasi ini, Arbyn Dungga dan Salahudin Olii, mengatakan, aplikasi ini berbasis Android dan web. Aplikasi cegah pungli bisa diunduh di Play Store.
Menurut Funco, Pukat akan menggandeng kepolisian, kejaksaan, KPK dan Ombudsman dalam pencegahan serta pemberantasan korupsi, termasuk pungli di kawasan Sulawesi. / http://regional.kompas.com/read/2016/11/10/10400431/menristek.dikti.luncurkan.aplikasi.cegah.pungli.di.perguruan.tinggi

Tidak ada komentar:
Posting Komentar