Selasa, 21 Maret 2017

Cara Menghitung ala ibu Rumah Tangga versi blogger banua banjar....

Image result for Ekonomi Rumah Tangga 

Sumber Pic : https://www.google.co.id/search?q=Ekonomi+Rumah+Tangga&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwjdm82vm-fSAhXLpI8KHZgpAykQ_AUIBigB&biw=1280&bih=615#imgrc=1hAX2mmAKEyBBM:

Belajar Mengatur Ekonomi Rumah Tangga Bagian 1 (Pahami pola Ekonomi)

Saatku menulis tentang ekonomi aku tau kalian pasti berpikir uang😁. Mari kita tengok sejenak ilmu tentang ekonomi sebenarnya.
Secara garis besar ekonomi adalah ilmu yang mempelajari tentang cara memenuhi kebutuhan manusia yang tak terbatas. Kebutuhan pokok manusia? Adalah Pangan, Sandang, dan Papan. Selebihnya adalah teori kebutuhan yang mengait-ngaitkannya dengan pelengkap dan prestise? Betul? Silahkan anda coba flashback tentang teori kebutuhan manusia yang menjadi basic dalam pelajaran teori ekonomi. Jadi, masih percayakah anda kebutuhan hanya sekedar uang?
Mungkin, anda langsung bilang: “Ya eyalah uang kan alatnya. Emang gimana bisa beli kebutuhan tanpa uang?”
Kalo anda bilang gitu ayo kita kompak dulu bentar.. Hihi.. 😆 berarti kita sama-sama orang kota yah. Bahkan air pun disini beli, susahnya jadi orang kota. 😂
Saya bilang gini karena saya dulu mantan orang desa. Disana sayur ada, air tinggal naruh mesin disumur, mau ayam tinggal potong (gini nih enaknya berternak ayam), mau cemilan tinggal nyabut singkong dikebun, tinggal beli beras, bawang, telur dst. Bulan tua? Don’t worry lah.. Masih banyak ayam dan singkong dikebun. Maka sungguh kejam ya jika ada yang membandingkan pengeluaran orang kota dan orang desa. Hihi.. 😂
Ada lagi yang suka bandingin pengeluaran versi Full time mother dan working mother. Nah, ini kejam ga ya? Hihi.. 😂
Maaf ya kalo ada yang merasa terzolimi dengan tulisan nyurcol saya tentang mengatur rumah tangga versi IRT ini. Bukan maksud membandingkan, ini tulisan biasa yang ku harap bisa menginspirasi IRT dan Working Mom. 😊
Sebelum kita masuk kepembahasan pengeluaran mari kita bahas mengenai HUMPB. Apa itu? Harta, Utang, Modal, Pendapatan, Beban. Aku bukan mau mengajari akuntansi tetapi sungguh rugi kan jika aku yang mengerti tentang pencatatan versi akuntansi harus membahas mengenai ekonomi rumah tangga seperti arus kas biasa.
Eh, emang di rumah tangga perlu Seribet itu ya? Kamu punya catatan pembukuan hingga laporan keuangan gitu? *eh.. Ga segitunya juga kali.. Emang ini perusahaan.. 😅
Mari kita bahas tentang Harta terlebih dahulu. Apa itu Harta? Semua yang kau punya adalah harta. Apa anak dimasukkan? Kalo aku, iya.. Masukkan. Rumah, Uang bulanan, peralatan rumah, perlengkapan hingga bawang goreng itu adalah Harta. *Masih ada yang nanya dicatat segitunya? Silahkan jika anda rajin. Aku sih ogah.. 😛
Apa itu Utang? Apa hutang perlu. Oh iya, perlu. Utang bukan cuma masalah pinjem duit buat rumah, modal kerja bla bla bla. Kalau aku lebih suka menyebutnya kewajiban. Apa kewajiban? *Masak, ngepel lantai, mainan sama anak, nyuci, nyetrika.. Dst.. Dst.. Ah jd nyurcol kan.. 😂 aduh, serius? Hihi
Modal? Modal adalah sesuatu yang bisa kita olah untuk membuat pendapatan. Modal dalam ekonomi rumah tangga adalah potensi yang dimiliki oleh suami istri serta anak. Tidak dipungkiri suami adalah seorang tulang punggung keluarga. Namun, istri yang hanya Ibu Rumah Tangga non pekerja  juga tak luput dari lingkup potensi. Lantas, bagaimana bisa istri ada hubungannya dengan pendapatan? *mungkin dy jaga lilin tiap malam, Hihi.. Kamu kira babi ngepet apa.. 😂
Pendapatan, dalam ekonomi kau terbiasa menyebutnya gajih, tapi dalam rumah tangga kau akan mengenal arti rezeki. Apa bedanya? Oh, percayalah.. Sungguh berbeda. 😊
Beban, apa yang harus kau masukkan dalam pos beban? Biaya listrik, air, makan, minum, rekreasi, hingga penyusutan kulkas, TV, Kendaraan, Komputer sampai ke… staples😂? Catat? Eh, iya terserah aja kalo kamu rajin.. 😂
Aku membuat penjabaran HUMPB untuk mengenal pola pengaturan rumah tangga. Jika mau mencatat? Terserah saja. Akuntansi adalah seni mencatat yang tiada habisnya. Aku sendiri sih ogah nyatat segitu detailnya 😂, tapi “kita perlu ‘buku catatan’ 🙋” (mimik muka n gaya nurut nickelodeon blues clues😂, ada yang tau?eh ga ada ya..)*Abaikan😅
Aku sendiri selalu punya Anggaran Belanja Mingguan, Bulanan. Kemana catatannya? Dibukukan? Eh enggak, catatannya selalu berakhir hilang dipasar, hingga dicoret2 Farisha dan dibuang😂. Aku sudah meninggalkan dunia ribet dalam mencatat. Dulu, jujur saja waktu ngekost aku punya jurnal harian yang iseng kubuat seperti jurnal umum di akuntansi. Dan jurnal yang gak banget buat dilihat itu adalah:
Biaya Parkir            Rp. xxx
      Kas                                           Rp. xxx
😂😂😂😂 Maafkan Hambamu yang terkesan medit bin pelit ini Ya Allah. Percayalah catatan itu hanya sebuah jurnal yang kucoba aplikasikan dari hasil belajarku.😅
Ilmu mengatur ekonomi rumah tangga adalah ilmu yang tiada habisnya. Jika kau hanya melihat segalanya dalam bentuk kata-kata Simple seperti “cara menghemat pengeluaran” atau “cara berbisnis rumah tangga” maka kau termasuk dalam kategori menjadikan uang sebagai satu-satunya alat yang berfungsi sebagai penggerak ekonomi dalam keluarga.
Ekonomi bukanlah ilmu yang dipelajari untuk memperoleh uang untuk memenuhi kebutuhan manusia yang tidak terbatas. Jika kau lebih jeli, uang hanyalah alat yang dibutuhkan untuk menggerakkan roda perekonomian. Ekonomi adalah ilmu untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia yang terbatas Bukan keinginan yang tiada batasnya.
Well? Begitu saja endingnya? Wah ga rame.. Hihi.. 😅
Catatan pertama ini kutulis untuk memahami ekonomi dalam Versiku dan memahami pola pengaturan rumah tangga dari mengelola HUMPB. Jadi, ini hanya sekedar pembuka. Masih banyak catatan lain yang ingin kutulis. Mungkin ada 10 bagian tentang ekonomi rumah tangga ini.
Aku memiliki target menulis tiap bagiannya setiap minggunya. Akan terlalu panjang dan melelahkan jika semuanya kutulis sekarang disini.  😊
Just, Wait.  / https://aswindautari.wordpress.com/2017/03/10/mengatur-ekonomi-rumah-tangga/

Belajar Mengatur Ekonomi Rumah Tangga Bagian 2 (Mengelola Harta)

Jika kau belum membaca bagian pertama kusarankan kau membacanya karena sungguh tak bisa kau mengerti bagian ini jika masih belum mengerti bagian pertama.
Seperti yang pernah kuceritakan bahwa Harta adalah salah satu komponen dari pola pencatatan akuntansi yang kucoba membuatnya menjadi salah satu pola yang berperan dalam ekonomi rumah tangga.
Ia adalah komponen pertama dalam pencatatan Akuntansi. Aku terbiasa menyebutnya Aktiva. Aktiva terbagi menjadi dua, yaitu Aktiva Lancar dan Aktiva Tetap. Aktiva lancar adalah semua harta yang dipakai dan berkurang nilainya sedang Aktiva tetap adalah harta yang nilainya tinggi dan berkurang sesuai dengan kebijakan penyusutan. Ada yang mengalami penyusutan  dan ada yang tidak,malah nilainya bertambah sepanjang tahun. Ialah Tanah.
*Haduh aku baru kali ini nulis-nulis sok pinter setelah sekian lama menghilang😂 mau tapak muka dulu biar bangun.. *PLAK
Harta dalam rumah tangga? Izinkan saya menggolongkannya ya..
111 Kas (Uang Gajih Suami tiap Bulan)
112 Perlengkapan (sisa2 perlengkapan hidup tiap bulan sebut saja itu Sembako, Tepung, Telur hingga detergent.. Hihi)
121 Peralatan (sebut saja itu Kulkas, TV, Mesin cuci, Kendaraan, Boneka, Mainan Pica, Kompor, Oven, bla bla)
122 Rumah
123 Tanah
Suami adalah Partner dalam mengelola keuangan rumah tangga. Anak? Ini adalah harta yang tak ternilai harganya. Aku sendiri lebih senang menyebutnya Investasi yang fluktuatif (saham). Kenapa aku menyebutnya saham?
Saham adalah investasi yang mempunyai ciri khas high risk, high return.
Sejarah Cerita hidup rumah tanggaku dimulai ketika Aku memutuskan untuk memulai Rumah Tangga dari 0 dengan kondisiku yang saat itu masih menyusun Tugas Akhir dan suami yang terlahir dari keluarga sederhana. Maka aku pun mengatakan kepada diriku bahwa siap dengan segala konsekuensinya. Termasuk ketika tau bahwa aku langsung hamil. Pada awalnya kami mengkategorikan kehamilan itu pada beban. Lama kelamaan kami sadar bahwa anak ini adalah berkah terindah.
Merawat dan menyayanginya mesti saat itu masih bingung dengan pendapatan yang dibagi-bagi ternyata membuahkan High Return. Benar-benar Rezeki yang tak terduga.
Aku lah yang mengatur Sahamku ini. Merawatnya dan memastikan dia baik-baik saja. Sifat saham bila diacuhkan maka sia sia saja. Kita tak bisa mengembangkannya. Dan jika kita terus melakukan kecuekan yang tak beralasan ini bukan tak mungkin ia akan mencari investor lain yang bisa mengelolanya.
*Kuharap kau mengerti bahasa Akuntansiku ini.. 😊
Banyak ibu2 yang mengeluh dengan sedikitnya uang kas. Sementara beban pengeluaran semakin dan semakin bertambah. Pertanyaan-pertanyaan yang ingin saya lontarkan adalah:
1. Apa anda memandang ‘hanya kas’ yang menjalankan roda ekonomi rumah tangga? Saya bukan mengatakan anda matre, saya hanya menegaskan anda kurang maksimal dalam menyadari ‘harta’ anda😊

2. Berarti anda perlu disadarkan dengan harta lainnya. Atau anda tak sadar telah berinvestasi namun tak maksimal merawat dan mengawasinya? Atau anda terlalu asik dengan dunia kerja tanpa menyadari bahwa rumah tangga anda pun sebuah pola kerja sama dengan suami.  Anda terlalu berlebihan dalam memperhatikan uang kas. Dan lupa akan keajaiban rezeki.

3. Sudahkah anda memaksimalkan potensi yang anda miliki? Bukan sekedar kerja untuk status sosial tanpa passion yang sesuai? Akhirnya yang anda cari hanya kas.. kas.. dan kas. Jika benar begitu, pantas saja anda selalu merasa kurang.
4. Dan yang paling penting apa anda sudah bersyukur?
Pertanyaan nomor 3 akan saya jawab pada catatan belajar mengatur ekonomi rumah tangga bagian ke 4. Akan sangat OOT jika saya bahas disini karena dibagian ini khusus membahas harta.
Tentu rasanya tidak adil jika sy hanya menjadikan Ibu sebagai pemegang peranan utama dalam mengelola ekonomi rumah tangga ini. Istri dan Suami layaknya seorang Pengelola dan Investor saham. Siapa yang jadi pengelola dan investornya? Keduanya. Ya, Rumah tangga diawali dengan komitmen saling bekerja sama bukan?
Sejauh yang kepelajari, perusahaan yang sehat bukan yang memiliki nominal kas terbanyak, bukan pula perlengkapan dan peralatan yang nilainya tinggi. Tapi yang seimbang nilai investasinya. Itulah harta yang sehat.
Contoh nyata yang banyak terjadi adalah tentang memperbanyak kas. Istri merasa gajih suami kurang, karena itu ia bekerja di perusahaan xxx dengan gajih yang sama dengan suaminya. Namun, istri baru bisa pulang sore atau malam hari.
Istri menitipkan anaknya pada orang lain. Ia mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk orang tersebut. Istri senang karena dengan bekerja lembur ia dapat memperoleh uang ekstra. Senang dengan uang tersebut akhirnya dia bisa besosialita seperti ibu ibu lainnya. Ketika ada trend tas, baju, kosmetik sang istri tak ketinggalan untuk mengupgrade penampilannya.
Apa dampaknya? Istri memang terlihat cantik dan bersosial. Namun, suami tak diperhatikan kebutuhannya. Jangankan masalah perut, kebutuhan kasih sayang suami tak terpuaskan. Akhirnya, suami mulai mencari sumber kasih sayang yang lain untuk mengisi kekosongannya. Banyak begini? Banyak. Kalau sudah begitu, istri pun menangis dan berkata “Apa Aku masih kurang cantik untukmu?”
Perkembangan anak pun salah satu dampak yang tak dapat dipungkiri. Anak akan kehilangan sosok Ibu. Akhirnya ia mencari kebahagiaan dengan uang. Minta belikan mainan, belikan ini itu supaya hatinya senang. Pada akhirnya, anak hanya menatap mainan nya dengan tatapan kosong.
Cerita diatas hanyalah contoh tentunya. Anda yang merasa sebagai Ibu pekerja tak usah baperan membacanya ya. Sebagai Ibu pekerja anda tentu bisa melakukan hal yang bermanfaat untuk orang banyak sehingga akan berdampak baik pula untuk harta2 yang terpaksa anda tinggalkan. Semuanya tergantung dari niat dan kesadaran kita sebagai pengelola saham. Tiap rumah tangga itu unik. Kadang kala komitmen awal lah yang dibutuhkan untuk tetap memiliki tujuan yang mulia.
Namun, bagaimanapun kondisi keluarga anda pastikan Harta-harta anda dikelola dengan bijak. Awal kehancuran ekonomi rumah tangga adalah keteledoran dalam memelihara harta. Bukan hanya berupa tak pandai mengawasi investasi berupa anak, keteledoran pemeliharaan harta juga seringkali muncul karena terlalu berlebihan dalam membeli aktiva tetap yang mengalami penyusutan. Sebut saja itu Kendaraan, Baju Mahal, Perhiasan non emas, TV, Mobil dan Lain-lain. Dan parahnya mereka membelinya dari uang kas.
Keluarga kami termasuk yang paling berhati-hati dalam urusan aktiva tetap ini. Awal hidup, kami memutuskan untuk menabung demi tercapainya membeli rumah sendiri. Tidak menyewa rumah namun tinggal dengan mertua demi menghemat uang kas, bertahan tanpa kuota selama 1 tahun, bertahan berpisah selama 1 tahun lebih, menyimpan uang beasiswa untuk menabung, tak berani membeli apapun yang tidak penting. Bahkan, kami betah memakai kendaraan yang sangat lama masa pakainya dan baru saja kami berani membeli yang baru. Dan tiba-tiba saja rezeki tak terduga itu datang untuk kami jemput, tepatnya beberapa bulan ketika kami mulai merasa jenuh dan sekarat dalam memelihara anak kami (saham kami).
Awal perjalanan rumah tangga adalah ujian dalam keterbatasan harta..
Tak ada yang langsung mendadak kaya, berjuang adalah segalanya..
Awalnya kami kira kehadiran benih kecil ini adalah beban yang baru..
Tapi akhirnya kami sadar, dia investasi awal kami.. Pembuka jalan rezeki kami.. 
Dari cerita dan penjelasan diatas aku sebagai Ibu Rumah Tangga Tulen ingin memberikan motivasi untuk sesama IRT tulen.
Hai.. Mungkin ada diantara kamu yang membaca ini dengan seksama sambil fokus menyusui bayimu. 
Atau ada diantara kamu yang membaca sambil asik menunggu ikan goreng mu matang. 
Atau ada diantara kamu yang bermain dengan anakmu
Tak perlu sedih dengan apa kondisi sekarang.. 
Kau sedang melakukan proyek memelihara  harta 
Maka peliharalah semuanya dengan ikhlas. 
Berkerjalah dan bertanggung jawablah sesuai dengan komitmenmu dalam rumah tangga. 
Setidaknya aku berharap Tulisanku ini bisa menggambarkan padamu bahwa pekerjaan yang terlihat biasa itu.. 
.. Adalah jalan terbaik dalam memelihara harta.. 
Kau tak butuh uang kas yang banyak untuk kewarasanmu. Me time dengan kas adalah berita hoax semata. 
Lihat dirimu, lihatlah senyum ceria anakmu yang sedang asik dengan ASI mu yang kau berikan eksklusif dan kau rela menyerahkan hidupmu untuknya. Kau mungkin merasa lelah dengannya.. 
… Namun dari dialah rezeki mu akan bertambah.. 
Bersabarlah dalam memelihara harta.
Bersyukurlah dengan kas yang tak sebanyak mereka namun nyatanya kau lebih bahagia. 
To be continued..  / Next Chapter 3 Belajar Mengelola Ekonomi Rumah Tangga (Sadarlah akan Kewajiban dan Tanggung Jawab)  
 https://aswindautari.wordpress.com/2017/03/13/belajar/

Antara Fokus Menjadi "Orang Pintar", Sumbangan Masuk Kampus "Meski" sering Juara di SMA hingga persoalan "Menekan Rakyat" sebelum Era Pak Presiden Jokowi... Oh Hidup Ulun... Pian.. Kita.. Mereka.. semuanya... !!!!

Image result for pungli di kampus  

Sumber pic :https://www.google.co.id/search?q=pungli+di+kampus&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwiq6ZqJk-fSAhWFto8KHSd2BQIQ_AUIBigB&biw=1280&bih=615#imgrc=qg4vWqhP9FbYTM:

Ciri-Ciri Pungutan Liar di Kampus

Mahasiswa News | Berbicara soal korupsi, pasti kita langsung berpikir hal-hal negatif dan menilai budaya ini sudah menjadi hal yang biasa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Korupsi pula sudah mengerogoti di semua elemen instansi. Instansi pemerintahan, instansi publik, instansi swasta bahkan instansi pendidikan tak luput dari budaya korupsi.

Universitas Mulawarman (Unmul) adalah kampus yang 2 tahun terakhir terus meningkat dari segi BOPTN. Tahun 2015, BOPTN Unmul sebesar 31 Milyar meningkat dari 29 Milyar pada tahun 2014. Tahun ini Unmul mendapatkan dana BOPTN sebesar 33 Milyar. Dengan dana yang jauh dari kata ideal untuk pembangunan dan meningkatkan kualitas, ditengah keterbatasan yang ada Unmul terus berbenah dengan dana dimiliki.

Unmul sejatinya sudah menerapkan kebijakan sistem BLU mulai tahun 2009. Itu artinya boleh mencari pendapatan dari pihak ketiga yang menjadi PNBP serta harus melalui rekening Unmul dan jelas diatur dalam aturan yang dibuat oleh Unmul.

Pada dasarnya Unmul menerapkan kebijakan ini untuk efisiensi dan produktivitas Anggaran. Dan mengelola anggaran secara mandiri melalui pihak ketiga karena dari perspektif BLU boleh melakukan kegiatan bisnis untuk menunjang pendapatan selain dari dana bantuan APBN dan BOPTN dari pemerintah. 

Namun, dalam perjalanannya banyak sekali yang menyalahi aturan dengan melakukan pungutan diluar aturan yang ditetapkan Unmul. Kita biasanya menyebutnya pungli (Pungutan liar).

Budaya pungli sudah terjadi sejak dahulu dan terjadi di kampus Unmul. Biasanya pungli terjadi untuk memudahkan administrasi dalam pengurusan surat menyurat atau dokumen, meminjam gedung, study tour bahkan untuk menunjang nilai kuliah tanpa harus melalui ujian. 

Di Universitas Mulawarman selama bertahun-tahun kerap menjalankan praktek pungli. Barangkali dari kita ada yang sudah terbiasa bertemu pungli. Namun tak sedikit dari kita yang kesal ditarik pungli. Entah karena malas merogoh uang di kantong, tidak punya cukup uang, maupun karena sudah mengetahui aturan yang dibuat. Karena sudah menjadi tradisi dan sudah terbiasa menemukan pungli di kampus.

Kadang kita bergumam dalam hati, “ah cuma Dua ribu aja”. Ya, kalau cuma dua ribu, kalau sekian juta? Ya, kalau cuma dua ribu, kalau dilakukan berkali-kali ?. Tanpa sadar, uang yang kita bayar tidak masuk ke kas Unmul dan tak berarti apa-apa untuk Unmul. Uang tadi masuk ke kantong pribadi-pribadi, yang memanfaatkan birokrasi demi kepentingan pribadi. 

Ciri - ciri Pungutan liar antara lain :

1. Dipungutnya biaya tambahan, di luar yang diatur di standar layanan. 
2. Biasanya tidak ada tanda terima. 
3. Tidak disetor ke negara, dan biasanya dengan dalih untuk operasional.
 

Hal termudah mengetahui pungli di kampus tentu saja ketika bertemu jenis pungutan yang tidak disertai tanda terima. Itu sudah jelas sekali. Termudah kedua, adalah pungutan yang tidak ada dasar aturan yang jelas.
Di kampus, kita bisa menemui banyak sekali macam-macam pungutan. Dari sekian pungutan, bisa jadi salah satu diantara adalah yang merasakan ganasnya pungutan liar adalah kita mahasiswa.
Tentu dalam memperangi Korupsi, di tatanan pemerintah mempunyai lembaga KPK. Sedangkan di tatanan Kampus mempunyai lembaga SPI (Satuan Pengendalian Internal) Unmul yang mempunyai wewenang memeriksa, mengaudit dan menindak tegas oknum Pungli di semua fakultas yang ada di Unmul. Tentu dengan melihat laporan mahasiswa dan keganjilan laporan keuangan fakultas yang selalu disetorkan kepada universitas setiap bulan agar SPI bisa menjaga nilai-nilai akuntabilitas dalam hal laporan keuangan sehingga tak ada lagi anggaran yang tak terpakai, membengkak, dan penyerapan anggaran tak maksimal.
Setiap uang yang kita setor ke kampus, haruslah menjadi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Tidak segala hal menjadi PNBP. Artinya, ketika uang yang kita setor tidak masuk sebagai PNBP, pastilah merupakan pungli. Bahkan sekarang jika kita menyetorkan uang harus melalui rekening Unmul bukan lagi rekening pribadi. Dan juga disertai laporan pendapatan universitas pertahun, sehingga publik mengetahui dan mengawasi laporan keuangan.
Uang yang dibayar yang tidak masuk ke PNPB setidaknya ada yang tujuannya baik, misalnya untuk rehabilitas gedung, peningkatan pengurusan administrasi, pengadaan fasilitas dan sebagainya. Akan tetapi persoalannya bukan seputar baik atau buruk tujuan dari pungutannya. Persoalannya adalah seputar pertanggungjawaban alias akuntabilitas dari uang tersebut. Mengelola kampus, tentu berbeda dengan mengelola dompet pribadi. Kampus adalah Badan layanan umum, sehingga setiap pengeluaran sekecil apapun bertanggungjawab kepada publik.
Hari Anti Korupsi mestinya dipromosikan bukan saja untuk membenahi kultur dan struktur pengelolaan urusan publik (governance) tapi juga menanamkan nilai-nilai semangat pengabdian pada kemaslahatan publik. Apabila semangat semacam ini tumbuh menjadi kebiasaan orang Indonesia, kami yakin akan tercipta kultur dan struktur administrasi publik yang baik. Tapi sepanjang etos ini hanya ada di segelintir manusia Indonesia maka kemungkinan besar dia kurang daya melawan arus sistem yang mementingkan hak pribadi. Pejabat melakukan korupsi belum tentu karena niat pribadi tapi karena desakan sistem atau struktur kuasa yang busuk sehingga memperangkap orang yang sebenarnya baik menjadi tidak lagi berdaya atau bahkan tersedot oleh sistem yang ada.
Menanamkan semangat anti korupsi dengan berani untuk jujur adalah langkah jangka panjang  dan harus dilakukan terus menerus. Pembenahan bisa dimulai dari diri kita sendiri. Langkah awal bisa dilakukan di lingkungan terdekat kita : di keluarga, kampus, kelas, komunitas, atau di tempat kerja. Sebarkan virus anti korupsi ini setiap saat tidak harus menunggu Hari Anti Korupsi.
Mari berantas pungli di Kampus Unmul, karena awal dari pungutan liar akan menjadi budaya korupsi yang mementingkan kepentingan pribadi. Dengan keterlibatan aktifmu memerangi pungli, kamu sama saja sudah berusaha menyelamatkan generasi muda dari budaya korupsi. Dan juga tentu saja menyelamatkan uang yang diamanahkan oleh orang tua tercinta, sehingga tidak jatuh di pihak yang salah. Masih banyak pungli berkeliaran di sekitarmu, siapkah kamu memeranginya? Waspadalah !
Untuk hebat, tidaklah perlu untuk membuat hal-hal yang besar yang ribet, cukup jujur dalam hal kebaikan dan kebermanfaatan untuk menghilangkan budaya korupsi. Karena berani jujur itu hebat wal!
Salam, Freijae Rakasiwi Koordinator Jaringan Advokasi Mulawarman / http://www.mahasiswanews.com/2016/12/ciri-ciri-pungutan-liar-di-kampus.html#

 

I’m a Happy Mom

Hai.. Aku adalah seorang Ibu Rumah Tangga Tulen. Aku katakan tulen karena aku sepenuhnya bertanggung jawab kepada keluarga kecuali masalah keuangan. Umur ku masih tergolong muda, 26 tahun. Status Ibu Rumah Tangga ini sudah lama melekat dalam diriku, 5 tahun lamanya aku mulai meninggalkan duniaku yang dulu.
Duniaku yang dulu adalah hanya tentang diriku..dan beberapa buku serta khayalan tentunya. Aku adalah anak perempuan satu satunya dari empat bersaudara. Ibu dan Ayahku adalah Guru, kakakku adalah Dokter dan dua adik kembarku juga ‘calon’ dokter. Mungkin kalian bertanya-tanya bagaimana mungkin aku betah menjadi Ibu Rumah Tangga biasa dengan keturunan seperti itu?
Yah, mungkin aku harus curcol dulu tentang siapa gerangan diriku. Aku adalah anak paling cantik (karena perempuan Satu2nya tentunya) dan paling sedikit mendapatkan porsi IQ dibanding saudara saudaraku. Sejak dulu Aku berusaha menjadikan kakakku sebagai Rule Mode. Aku terbiasa berpura-pura menjadi orang pintar dilingkungan ku Just like my Brother. Untungnya dengan belajar yang lebih giat tentunya Aku berhasil memperoleh rangking dikelas hingga SMP.

Namun, masa SMA bagiku adalah babak yang tak kuperhitungkan. Otak kecilku tak sanggup bersaing dengan Otak-otak pintar lainnya yang terkumpul dari anak-anak SMP yang pintar. Aku tak pernah lagi memperoleh rangking seperti dahulu. Bahkan, pelajaran Fisika yang dulu Kusukai berubah tak menyenangkan dengan munculnya Guru yang baru.
Sejak itu aku memukul diriku. Aku katakan kepada diriku “THAT’S ENOUGH” cukup sudah drama berpura-pura-puranya. Aku sudah jelas tak bisa menandingi kakakku. Impian menjadi ‘be like him’ sudah kukubur Jauh-jauh. Aku pun memutuskan masuk ke Jurusan IPS. Dan apa yang ingin kuperdalam dalam disana? Atau aku kesana hanya ingin berpura-pura pintar (lagi?)
Entahlah, waktu Itu tujuanku masih ngambang. Ketika salah seorang guru Bahasa inggris memintaku menuliskan tentang cita-cita aku menulis ingin menjadi seorang Penulis. Tulisan itu muncul begitu saja, padahal ketika Guru lain bertanya aku selalu menjawab ingin menjadi Guru TK seperti mama ku. Mungkin karena waktu itu Aku merasa nyaman ketika diajar oleh beliau sehingga Aku tak bisa menyembunyikan Obsesi khayalan ku bahwa Aku menggemari JK Rowling, bahkan ingin menjadi sepertinya.
Namun, manusia memang aneh. Dia tak pernah bisa fokus. Aku misalnya tak pernah memulai Tulisan ku. Hanya beberapa cerita curcolan kecil tentang hidupku dan kadang ku perindah ceritanya dengan kisah cinta remaja SMA, Seolah-olah Aku adalah Gadis yang berperan utama di antara beberapa lelaki yang sedang Pedekate denganku. Ah konyolnya. *tapak muka*
Dan jangan tanya kemana file cerita cinta sok laku itu? Sudah kubuang jauh-jauh tentunya.. Hihi..
Hidup manusia memang selalu terbawa dengan fenomena. Aku adalah salah satu korban dari salah tafsir fenomena dilingkungan ku. Ayah dan Ibuku keduanya adalah PNS dan merasa kalau penghasilan mereka selalu kurang. Ibu dan Ayahku pekerja keras. Tak cukup hanya menjadi Guru mereka juga berternak Ayam Pedaging. Dari memelihara 200 ekor hingga puluhan ribu ekor.  Ibuku selalu bilang kepadaku bahwa penghasilan PNS tak akan pernah cukup untuk membiayai keempat anaknya.
Sejak itu, aku memiliki Tujuan hidup yang baru. Ya.. Uang. Dimana pelajaran yang mempelajari tentang uang? Berhubungan dengan uang? Yah semua ada di ekonomi dan akuntansi. Ibuku mendukung keinginanku. Mungkin nanti aku akan menjadi orang kaya pikirku sehingga aku akan membuat keluargaku bangga.
Ketika lulus SMA aku secara mantap mendaftarkan diriku di Jurusan Akuntansi. Ikut PMDK dan UMPTN DIUNLAM juga di UNM. Namun, tak satu pun lulus. Sungguh mengecewakan kala itu, bagaimana bisa Aku yang selalu Rangking tak bisa menembus jurusan yang kumau? Aku melirik teman-temanku, beberapa ada yang mendaftar di jalur mandiri. Akupun ikut mendaftar, ternyata lumayan gampang dibanding UMPTN namun, disana harus menuliskan sumbangan. Dan makhluk mana yang masih merasa ‘kasihan’ kalau uang mama habis jika aku menulis banyak uang. Itulah aku, aku hanya menulis uang 1juta dan akhirnya aku tak lulus (lagi).
Aku lalu mendaftarkan diriku di POLIBAN. Saat itu, ada jurusan yang menarik diriku, D4 Akuntansi Lembaga Keuangan Syariah(ALKS). Menarik, karena akuntansi dan syariah tetapi mengecewakan karena D4. Maksudku kenapa tak S1 saja sekalian? Aku Ragu mendaftar namun jika tak kesini kemana lagi? Pikirku. Alhamdulillah aku pun lulus.
Ketika inilah Aku mulai perlahan memahami langkah hidupku. Kupikir kenapa Allah menetapkanku disini? Aku menjawab secara positif kepada diriku sendiri bahwa Aku tak pernah diinginkan Allah menjadi cewek matre. Seandainya matre pun Aku harus selalu memandang uang dari kacamata syariah. Akupun secara positif membuat tujuan baru “Jurusan ini langka, pasti nanti nyari kerjanya gampang” hihihi.. Nah loh mesti kena tapak berapa kali nih muka? 😂
Singkat cerita Akupun lulus kuliah dan berjodoh dengan salah satu Asisten Dosen di Kampusku. Aku tak menyangka langsung hamil, padahal saat itu aku memakai KB. Mungkin, inilah jalan terbaik. Pikirku positif. Padahal saat itu Aku ingin sekali ikut S2 ke UGM bersama dengan suamiku yang kebetulan lulus beasiswa disana.
9 bulan kemudian Anakku lahir dan hidupku berubah 180 derajat. Mulai dari menyesuaikan diri di rumah mertua, menjadi inem dirumah sendiri, menjadi Ibu dan Istri yang baik. Hidupku kini telah memiliki tokoh utama yang lain. Its not About Me anymore. It’s all about you, you n home.
Aku selalu bertanya masalah pekerjaan sewaktu baru menikah. Ketika hamil ibuku dan suamiku bilang tidak, nanti dulu. Ketika Farisha, anakku lahir mereka bilang nanti dulu masih ASI. Ketika Farisha umur 6 bulan Aku mulai Iseng mendaftar diberbagai perusahaan dan kantor, namun tak juga mendapat panggilan. Suamiku bilang ia sungguh membutuhkanku untuk bisa selalu dirumah agar ia bisa menyelesaikan pekerjaan sampingannya, supaya kami bisa memiliki rumah sendiri.
Kesabaranku berbuah manis. Kami akhirnya memiliki rumah sendiri berkat suami yang luar biasa. Ia adalah Seorang Pengajar, dan memiliki bakat programmer yang luar biasa. Sejak itu, aku selalu mempercayai masalah ekonomi kepada suamiku. Tugas ku hanya disini, dirumah.
Rumah memang bentuknya tak sebesar kantor. Percayalah,  disini adalah kantor yang luar biasa sibuknya. Pagi-pagi aku kepasar, kemudian memasak, menyusui Farisha hingga tertidur, membersihkan rumah, mencuci baju, memasak lagi, menyusui lagi, memasak cemilan, memasak lagi, menyusui lagi, mencuci lagi, melayani suami. Dst.. dst..
Aku tentu bisa menahan rasa capek jasmaniku, yang tak bisa kutahan adalah rasa capek rohaniku. Dunia sosial ku, komunitasku, bahkan celotehan Ibu dan Ayahku semuanya hilang. Bukannya Aku tak ingin besosial dengan mengurung diri dirumah, namun dirumah saja sungguh sibuk, bagaimana Aku sempat nyurcol dengan teman diluar? Eh, maksudku tetangga?
Sosial media adalah pelepas rasa Stress yang melandaku. Mulai dari bbm, Facebook, Instagram. Di bbm aku biasa menulis keluhan. Di Facebook aku menulis curcolan singkat dan agak panjang. Di Instagram aku sering meng’upload foto masakan, kue dan resepnya. Kurasa itu sungguh manusiawi mengingat kondisi Stress akan dunia kotakku.
Aku tak akan melupakan ada seseorang yang mengadukan perilakuku(statusku) disosial media kepada salah satu keluarga ku. Aku sedikit pilih pilih berteman melalui bbm mengingat disana aku kadang tak terkontrol menulis emosiku. Tapi jika di Instagram aku dibilang sungguh lebay memoto makanan dan momentnya sungguh lucu sekali. Atau ketika aku menulis hal konyol di facebook. Aku cuma bisa bilang ke dia. Udah tau aturan sosmed? 😬 *sayangnya aku tak pernah berani bilang kepadanya secara langsung*
Untunglah punya Suami sungguh mengerti akan diriku. Dia mengerti tentang diriku yang melankolis super. Aku tak bisa mengadukan masalahku seperti para IRT2 lain yang suka ngerumpi dikala sore tiba. Ketika Aku bertemu dengan orang lain Aku hanya memutuskan menjadi pendengar yang baik. Namun, bagaimanapun juga Aku tetaplah seorang wanita  yang harus mengeluarkan minimum 20000 kata per harinya. Kadang sosial media terlalu kejam untuk memahami hal sesimple ini. Untuk itulah Suamiku menciptakan Wadah ini untuk menyalurkan Hoby menulisku yang telah lama tak ku asah karena tiada cerita cinta SMA lagi.. Hihihi..
Jangan khawatir, blog ini tak akan kuisi dengan keluhan dan cacian. Aku akan menuliskan dan menceritakan kepadamu Bagaimana menjadi Ibu yang Bahagia.
Bahagia itu penting. Modal awal membangun pondasi rumah tangga. Kebanyakan Ibu lupa bagaimana cara Bahagia dirumahnya sendiri. Akibatnya sungguh fatal, mulai dari kemarahan, hingga berujung pertengkaran yang tiada habisnya.
Aku akan menulis tentang proyek menjadi Ibu dan Istri yang baik. Kedengarannya sungguh Simple ya? Percayalah itu kedengarannya saja.. Hihi.. Dan selain itu blog ini juga akan kuisi tentang berbagai renungan Hidup yang kuharap akan menjadi renungan bagiku jikalau nanti aku akan mengalami cobaan yang lain. Selain itu, aku juga akan berbagi dengan kalian tentang cara mengatur ekonomi rumah tangga, parenting, all about beauty. Menyenangkan bukan? 😊
Karena itulah Blog ini kunamakan Proyek Evolusi Mama. Karena aku yakin, diluar sana banyak mama-mama lain sepertiku yang ingin memulai perubahan tapi tak kunjung menemukan jalan. Blog ini adalah langkah kecil dari menstruktur strategi perubahan. Yah, menulis akan memulai segalanya.
Ingatlah, menulis adalah media yang bisa mengabadikan jejak. Seperti dongeng Hansel n Gretel, Jejak bukanlah sesuatu yang hilang begitu saja walau itu hanya berbentuk remahan roti. Ia adalah pengingat jalan pulang. Menulis tentang kebaikan akan menjadi cahaya tersendiri ketika kita dihadapkan dalam kegelapan kehidupan.
Aku tau lambat laun semuanya akan hilang. Tapi satu hal yang harus selalu kekal. Ialah Kenangan. Jika kau merasa kulitmu akan mengendur, matamu kemudian penuh lekukan dan bibirmu tak secantik dulu maka kau tak perlu bersedih. Karena tulisanmu tidak akan pernah berubah menjadi usang. Disanalah kau akan merasa muda selamanya.
Maka bersenang-senang lah dalam proyek mengabadikan kenangan. Happy Writing!!!  / https://aswindautari.wordpress.com/   /  https://aswindautari.wordpress.com/2017/03/05/pos-blog-pertama/

Wakil Rakyat yang ada di Banjarmasin atau di Jakarta ...sama aja ...hanya manis dikala kampanye..setelah terpilih..selalu menyusahkan rakyat kecil..




Listrik Makin Menyetrum Rakyat
Banjarmasinpost.co.id - Selasa, 29 Juni 2010
Oleh: Latifika Sumanti
Mahasiswi S1 Fisika FKIP Unlam

SEBAGIAN masyarakat pasti menyesal telah memilih anggota legislatif yang kini duduk di DPR. Betapa tidak? Mereka yang mengklaim dirinya sebagai wakil rakyat yang akan menyalurkan aspirasi masyarakat (setidaknya itu mereka ucapkan ketika kampanye) kini seakan lupa kacang akan kulitnya.

Badan anggaran DPR RI akan memangkas anggaran subsidi listrik dari Rp 56 triliun menjadi Rp 55 triliun. Itu artinya kenaikan tarif dasar listrik sebesar 10 persen akan kembali menyekat kerongkongan rakyat kecil.

Kenaikan tarif listrik itu disebabkan naiknya harga minyak dunia. Pemerintah kini sedang ancang-ancang untuk menetapkan harga baru BBM. Bisa dibayangkan, makin jauh harapan kesejahteraan itu. Negeri kaya dengan sumber daya melimpah, kini sedang kehilangan potensinya yang luar biasa.

Perampokan hasil alam berdalih penambangan oleh asing (Freeport, Exxon Mobil, Newmont dan lainnya), berkedok penebangan hutan industri oleh koorporasi tak bertanggung jawab menjadikan Indonesia kerampokan di negeri sendiri.

Pengurangan subsidi listrik tidak hanya berdampak pada naiknya tarif listrik, tapi merambah ke harga sembako. Alhasil, masyarakat yang terjepit karena lapangan kerja yang makin sempit akan makin menjerit mendapati kenyataan hidup yang tidak memihaknya.

Pengurangan dan pencabutan subsidi adalah bagian dari kebijakan ekonomi kapitalis. Bangsa ini sudah terlanjur terjerat kapitalis dunia lewat jalan pemberian utang yang berbunga.

Pelunasan utang itu memakan waktu puluhan tahun dan selama itu pula kapilalis asing mengintervensi kebijakan dalam negeri Indonesia.

Padahal jika mau berdikari, Indonesia pasti bisa. Kekayaan hutan dan tambang mineral pun seakan melengkapi harta karun bangsa ini. Sudahlah cukup alam yang luar biasa itu menjadi bekal untuk menghidupi rakyat.

Di dalam syariah Islam, pengelolaan sumber daya alam yang penting bagi kelangsungan hidup manusia dan jumlahnya melimpah, tidak akan pernah diberikan kepada swasta, individu apalagi asing. Pengelolaan itu diberikan kepada negara sepenuhnya dan hasilnya dikembalikan kepada rakyat seutuhnya.

Bisa dibayangkan, kekayaan melimpah tadi dikelola negara dan hasilnya untuk rakyat. Tidak akan terdengar lagi harga sembako yang terus meroket, kita tidak akan merasakan lagi ‘setruman’ listrik yang menyengat. Hanya dengan syariah dan di dalam negara yang mau menerapkannya kita bisa seperti itu. Indonesia mau? (*)

Menristek Dikti, Muhamad Nasir saat meresmikan aplikasi Cegah Pungli di Universitas Negeri Goronatlo. Teknologi ini bisa diunduh di playstore untuk gawai berbasis android

Menristek Dikti Luncurkan Aplikasi Cegah Pungli di Perguruan Tinggi

GORONTALO, KOMPAS.com
–  Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristek Dikti) Muhammad Nasir meluncurkan aplikasi penangkal pungutan liar di kampus Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Kamis (10/11/2016). Teknologi aplikasi ini dikembangkan oleh Unit Pelaksana Teknis Teknologi Informasi Komunikasi (TIK) dan Pusat Studi Kebijakan dan Anti Korupsi (Pukat) UNG. Aplikasi dapat diunduh di Play Store dengan nama aplikasi Cegah Pungli.
“Pembayaran mahasiswa di kampus tidak boleh dilakukan secara tunai, semua harus online. Munculnya pungli ini akibat pembayaran tunai,” kata Muhamad Nasir.
Meristek Dikti menegaskan pihaknya tidak main-main dengan pungli di lingkungan kementeriannya, termasuk perguruan tinggi.
Hal itu, kata Nasir, sesuai dengan penegasan Presiden Jokowi yang bertekad membasmi pungli.
Pukat mengembangkan aplikasi Cegah Pungli sebagai komitmen terhadap pemberantasan korupsi di lingkungan perguruan tinggi.
Direktur Pukat, Funco Tanipu menilai, pungli dimulai dari hal-hal kecil hingga paling besar. Di pergurian tinggi masih dijumpai banyak pungli, yang semuanya di luar aturan.
Sementara itu, pengembang aplikasi ini, Arbyn Dungga dan Salahudin Olii, mengatakan, aplikasi ini berbasis Android dan web. Aplikasi cegah pungli bisa diunduh di Play Store.
Menurut Funco, Pukat akan menggandeng kepolisian, kejaksaan, KPK dan Ombudsman dalam pencegahan serta pemberantasan korupsi, termasuk pungli di kawasan Sulawesi. / http://regional.kompas.com/read/2016/11/10/10400431/menristek.dikti.luncurkan.aplikasi.cegah.pungli.di.perguruan.tinggi

Mimpi Punya Gubernur Jokowi dan Walikota Ahok : Keadilan Sebenarnya buat Orang Kaya dan Orang Miskin... hemmmm... Jangan Bedakan Kami.... Bisa Nggak ya..??!!??

Image result for keadilan
Mungkin... judul diatas mencerminkan kegelisahan ulun melihat sepak terjang penguasa yang selalu saja "Membela" kroninya dan Bukan Menjadi "Pelayan Masyarakat" sesungguhnya....
Sungguh Norak.....
Hidup di zaman Tekhnologi Digital ini, namun pola pikir mereka masih ingin "Dilayani" bak Raja dan Ratu disebuah Kerajaan.... Miris...
Kalau melihat Pak Jokowi dan Pak Ahok... ulun berasa seperti berada di zaman yang Rakyatnya adalah benar-benar menjadi Raja dan Ratu....
Tetapi tentu Pak Jokowi dan Pak Ahok punya "Musuh" baik NYATA maupun masih Dalam Selimut....
KASIHAN mereka.. karena bisa saja orang-orang disekitarnya "Mempengaruhi" pola kerja mereka (Pak Jokowi dan Pak Ahok) agar tidak lagi Pro Rakyat atau malah hanya jadi "Pura-pura" Pro Rakyat....
Jujur... ulun masih bingung dengan Standar Rakyat Miskin.... karena sebenarnya yang namanya Keadilan bukanlah berdasar Miskin atau Kaya... tetapi mempunyai kedudukan yang sama....
Janganlah menjadikan Orang Kaya untuk "disikat habis"... akan tetapi dengan Keadilan lah mereka disamaratakan dengan Rakyat Miskin...
Contoh... kalau penghasilan orang kaya perbulan 1 milyar, sedangkan pendapatan orang miskin perbulan dibawah 2 juta, seharusnyalah "berbagi" bukan di PAKSA dibagi....
Kalau orang kaya standar Indonesia uang 30 juta perbulan cukup, sisanya boleh dong dibagi buat rakyat miskin... dengan cara "digaji", sehingga semua rakyat merasa memiliki dan bersaudara... oh sungguh indah sesandainya cara-cara ini yang mungkin hanya ada di "bumi antah berantah"....
Kapan ya... Keadilan itu dimiliki orang Miskin dan Orang Kaya.... hemmmm... kapan - kapan ...ckckckck.... (www.titianhidupulun.blogspot.co.id / Bjm/21/03/2017/15:22Wita)

Tititan Hidup Ulun......

Image result for titian hidup
Hari ini Ulun mau bercerita tentang Kehidupan.......
Ulun lahir di Banjarmasin Kalimantan Selatan...
Seperti kebanyakan orang... ulun pernah di asuh (baby sister kalau zaman sekarang bilang) oleh orang Jawa .... Mungkin Kesantunan orang Jawa dan Perpaduan Mistis orang Kalimantan membuat ulun mengerti arti kehidupan.....
Kita memang tercipta untuk "Berbeda''... Jadi bersiap dan menerima dengan tulus perbedaan tersebut sebagai bekal kehidupan kita yang lebih kekal yaitu akherat......
Menempuh Pendidikan dari Jenjang TK, SDN, SMPN, SMEAN hingga akhirnya mendapatkan S1 di Universitas... sungguh kehidupan yang mesti disyukuri apapun itu Rezeki, Nikmat, Duka Cita, Suka Cita dan lainnya....
Pesan Ulun... :
Kenapa Kita sering berantem dengan mengatasnamakan "Kebenaran" padahal Kebenaran yang Mutlak itu hanya Milik Allah SWT.... hemmmm... seandainya semua orang berfikir untuk membantu dan tidak menumpuk kekayaan demi diri dan golongannya saja... sungguh Dunia adalah tempat persinggahan yang tak akan mungkin dilupakan.... Tapi apa daya .... Semua merasa PALING......
Ya Allah La Haula Wala Quwata Illa billah.....
(Banjarmasin, Selasa 21 Maret 2017 : 14:55 Wita / curahan hati ulun / www.titianhidupulun.blogspot.co.id)